Bisnis Telur Menguntungkan Untuk Pemula

Keluarga saya diselamatkan oleh seekor ayam betina. Ceritanya begini. Di dusun kelahiran saya, Ngimbang, Lamongan pada 1958, nenek menemukan anak ayam hutan betina. Kakinya patah, tersangkut di pagar, induknya mati diterkam musang. Setelah dirawat dan sembuh, bekisar betina itu diberi nama Si Bejog. Ia tak dapat terbang, jalannya pincang, terhuyung-huyung.

Si Bejog menjadi bagian keluarga kami, tumbuh dan berkembang bersama ayam-ayam kampung lainnya. Ukuran telurnya relatif kecil, berjumlah belasan, jarang direbus atau digoreng. Lagi pula, nenek selalu berusaha menetaskan semuanya. Blasteran ayam hutan dan ayam kampung sehat dan indah, tahan penyakit, lebih kuat, dan gurih dagingnya.

Ketika keluarga kami pindah ke Malang, si Bejog ikut, dan di sanalah ia beranak-cucu. Ayam kami jadi banyak sekali, hampir seratus ekor. Dan tugas saya mengkandangkan dan menghitung mereka setiap petang. Pada 1964, genap 40 tahun lalu, ayah dan ibu saya yang bekerja sebagai guru, mendapat kesulitan ekonomi. Gaji mereka terlambat dibayarkan, akibat ketegangan konfrontasi dengan Malaysia. Negara dalam suasana perang. Rakyat dibikin sibuk bemyayi “Awaslah Inggris dan Amerika!”

Pada saat itulah Bejog tampil sebagai pahlawan kami. Hampir setiap hari, satu persatu anak-cucunya kami jual, untuk beli beras dan lauk-pauk. Berbulan-bulan ayam kampung yang bagus-bagus itu menjadi tumpuan hidup keluarga. Seringkah saya sampai menangis saat harus menjualnya. Terima kasih banyak, ya Bejog. Kamu telah menyelamatkan keluargaku. Ayam betina pincang itu akhirnya mati tua, dikubur dekat pohon belimbing.

Rasanya, berjuta keluarga Indonesia punya pengalaman serupa. Pahlawan ekonomi kita adalah ayam betina, bebek, ikan lele maupun burung kenari. Hal seperti itu terulang lagi saat krisis ekonomi 1997.

Dewan Telur Nasional

Secara tradisional, perekonomian rakyat kita tergantung pada ternak, pertanian, dan industri rumah-tangga. Bisnis telur merupakan salah satu pilar utama. Karenanya, berbahagialah Anda yang dapat menghargai telur, termasuk yang pandai mengolah cangkang telur menjadi bermacam-macam kerajinan. Kebudayaan manusia tak akan lahir kalau tidak ada telur. Jadi jangan heran kalau kita melihat telur sering diabadikan sebagai kerajinan marmer, kayu, perak, tembaga, emas, platina, dan bermacam batu permata.

Para pengrajin bahkan telah membuka kursus menghias telur burung onta. Sejak jaman purba hingga era teknologi canggih ini bermacam telur telah memainkan peran penting. Ada lelang telur dinosaurus yang harganya ribuan dolar.

Ada juga menu telur ikan yang diandalkan oleh sejumlah restoran-restoran papan atas. Namun, meskipun kita dibuat tercengang oleh telur angsa emas, dan dibuat perkasa oleh telur penyu dan telur puyuh; dunia belum bergeming dari dominasi industri telur ayam betina!

Berapa volume perdagangan telur nasional dan internasional? Tentu tergantung pada pola konsumsi telur masyarakatnya. Indonesia, hingga 2004 termasuk yang kurang tinggi konsumsi telurnya. Paling rendah di ASEAN, kurang dari sekali sepekan konsumsi telur perkapita. Padahal di Malaysia, kata Siswono Yudohusodo, setiap hari orang makan telur kecuali hari minggu! “Di Indonesia tidak setiap hari orang makan telur, kecuali hari Minggu!” selorohnya.

Konsumsi Rata rata telur

Di Amerika, konsumsi satu butir telur tiap hari sudah lama dijadikan slogan untuk hidup sehat. Lihat saja dalam setiap “American Breakfast” untuk mata sapi maupun scrambled (dadar kocok) bisa beberapa butir sekaligus untuk satu orang!

Pada 2004 ini, Egg Nutrition Center (ENC) merayakan genap 25 tahun aktif dalam riset dan pendidikan dunia perteluran, dengan ungkapan “An egg a day really is okay

ENC adalah lembaga pemerhati telur dalam kaitannya dengan kesehatan. Dari sisi bisnis dan industrinya ada Dewan Telur Amerika, The American Egg Board (AEB) yang menjembatani kepentingan antara produsen dan konsumen telur. Bagaimana tren produktivitas telur di sana? Indeks produksi perkapita adalah angka yang menunjukkan jumlah telur yang tersedia dibagi jumlah warga negara. Statistik 20 tahun terakhir menunjukkan produksi perkapita cenderung turun, sedangkan konsumsinya cenderung naik. Pada 1984 indeks produksi perkapita di atas 260 butir, sedangkan pada 2003 kemarin tinggal 256. Uniknya, jumlah telur yang diekspor ke luar negeri meningkat dari 0,7 butir pada 1984, menjadi 2 butir per kapita pada tahun kemarin. Jadi perhitungannya terinci hingga jumlah telur yang dibagikan oleh seorang warga kepada orang lain di luar negeri.

Sekarang, bagaimana administrasi dan pengadaan telur di Indonesia? Sudahkah kita punya Dewan Telur Nasional? Masyarakat yang semakin kritis memerlukan perangkat untuk mengawasi lalu-lintas telur, peningkatan mutu, inventarisasi maupun pengembangan aneka perteluran di tanah air juga. Jangan sampai lupa mempatenkan teknologi meneropong telur, proses mengasinkan telur bebek, membuat telur abad, mendeteksi kualitas telur secara alamiah dan ramah lingkungan.

Mendongkrak Kualitas Telur

Dewan Telur Amerika dibiayai oleh para produsen yang memiliki lebih dari 75.000 ayam petelur di negeri itu. Dewan terdiri atas 18 anggota tetap dan 18 cadangan. Tugas utama mereka adalah terus menerus meyakinkan masyarakat bahwa telur adalah makanan alamiah yang paling bergizi. Mereka didukung pengurus yang profesional dan bergizi tinggi.

Mengapa masyarakat perlu terus menerus disadarkan? Tambahan lagi, bagaimana mutu telur harus selalu ditingkatkan? Adakah inovasi pengolahan telur terbaru? Kepercayaan masyarakat pada telur bisa turun naik. Ketika warga Inggris dihantui wabah salmonella, misalnya, hampir seluruh Eropa berhenti makan telur untuk waktu cukup lama. Kalau hal itu terjadi, kampanye makan telur harus digenjot.

Jangan lupa, kampanye makan telur tiap hari bisa berhadapan dengan Asosiasi Jantung Sehat yang pernah menyarankan maksimal 3 butir telur dalam sepekan. Tetapi kabar terakhir, mulai Januari 2004, The American Hearts Association menyatakan tidak keberatan masyarakat melahap sebutir telur setiap hari.

Para penggemar dibuat senang dengan munculnya inovasi telur omega 3. Omega 3 adalah salah satu jenis asam lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi kesehatan. Asam lemak dapat merangsang pembentukan hormon anti penggumpal darah. Menghambat sintesis asam arakidonat yang berperan dalam proses penyumbatan pembuluh darah arteri.

Telur omega 3 diproduksi dengan cara memberi pakan berkolesterol rendah kepada ayam petelur. Maka, tidak mengherankan bila dari segi rasa, ada pendapat telur omega 3 tidak lebih lezat daripada telur ayam biasa, karena kandungan lemaknya lebih rendah. Tetapi manfaatnya, telur omega 3 dapat mengurangi kadar trigliserida dan menurunkan tekanan darah. Di sisi lain, resep pengolahan telur juga semakin berkembang.

Untuk memudahkan transportasi telur, Jepang pernah menawarkan teknologi pengolahan dengan membentuk telur menjadi batangan, seperti pipa yang padat, sehingga tinggal dipotong-potong untuk menikmatinya. Teorinya sederhana, kuning telur dipisahkan dan dijadikan inti, lalu dilapisi dengan putih telurnya.

Di Indonesia, warna kuning telur sering dihubungkan dengan kualitas kandungan gizi, khasiat, serta rasa yang lebih baik. Ibu Retno Murwani PhD, dari Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang, menulis, “Kuning telur yang lebih gelap lebih banyak ditemui pada telur ayam kampung dibandingkan telur ayam negeri.” Itulah yang banyak disukai konsumen dalam negeri. Warna pada kuning telur dihasilkan oleh adanya karotenoid yang terkandung dalam makanan yang dimakan unggas, burung, dan hewan lain yang bertelur.

Karotenoid ini berfungsi sebagai antioksidan, serta memberikan sistem kekebalan pada anak ayam yang baru lahir. Jadi masuk akal, bila kita melihat telur ayam kampung dijadikan jamu, ditelan mentah-mentah untuk memperkuat tubuh manusia. Entah berapa nyawa telah diselamatkan oleh telur-telur berkhasiat itu.

Produk Turunan Telur

Telur ayam kampung betina bukan hanya menyehatkan, tapi juga memperkaya kebudayaan. Pernahkah Anda memanfaatkan putih telur untuk bahan lem kaca, gelasan benang dan campuran tembok? Secara tradisional, telur tidak hanya dimakan tapi juga untuk berbagai keperluan olahraga dan rumah-tangga. Pada masa lalu, tembok Tamansari, di seputar kraton Yogyakarta, konon diperkuat konstruksinya dengan menggunakan adonan telur. Sampai sekarang pun Anda masih bisa melihat telur digunakan untuk mempertajam benang gelasan layang-layang.

Dari sisi agribisnis, mudah sekali kita hitung berapa nilai ekonomi yang disumbangkan ayam betina Indonesia setiap tahunnya. Kalau harga dasar sebutir telur ayam kampung seribu rupiah, total perdagangan 100 juta butir dalam setahun telah mencapai 100 milyar rupiah. Bila 10 persen telur itu ditetaskan, dalam masa 3 bulan kemudian, harganya tentu berlipat ganda. Sekarang, saya paham, mengapa nenek membatasi konsumsi telur, dan memaksimalkan menetasnya anak-cucu si Bejog.

Sekarang, dengan konsumsi telur di atas 50 butir perkapita pertahun, kondisi kesehatan bangsa Indonesia sudah sangat membaik. Bisa dibayangkan, alangkah terbatasnya ayam petelur di negeri kita 40 tahun lalu. Belum terpikir bahwa negeri ini bakal dibanjiri berjuta ayam ras pedaging yang berwarna putih, dan petelur yang berwarna merah.

Kita memang tidak perlu khawatir akan datangnya kiriman ayam betina dari seluruh penjuru dunia. Tetapi alangkah baiknya, kalau apresiasi pada ayam-ayam kampung betina, yang bukan hanya memberi telur, tapi memberikan jago-jago di masa depan, semakin ditingkatkan.