Ayam aduan super di Lomba dan Bursa Ayam Hias

ayam aduan

Ayam aduan bertarung kian gontai. Beruntung, bel tanda ronde ke-1 berakhir berdentang. Lima belas menit waktu istirahat ternyata belum cukup mengembalikan keperkasaan Tarung. Alpha, sang pemilik, tampak mengernyitkan dahi sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kondisi fisik jagoannya. Lantaran sayang, hobiis asal Lampung itu memutuskan untuk menghentikan pertarungan.

Emil, wasit yang memimpin jalannya laga menyatakan Benggol menang TKO. Ayam milik Wewe asal Palembang, Sumatera Selatan, itu berhak menyandang gelar The Best King of Fighting Cock lantaran tercepat mengalahkan lawannya. Hanya dalam waktu 15 menit lawannya takluk. Sorak sorai pendukung ayam asal Palembang pun membahana di arena pertandingan. Mereka mengelu-elukan kehebatan Benggol.

Acara sabung ayam di hutan wisata Puntikayu, Palembang, itu berlangsung seru. Sekitar 80 orang memadati gelanggang utama berukuran 15 m x 10 m. Penonton lain yang tidak kebagian tempat duduk menyaksikan pertandingan di layar televisi. Mereka sangat antusias menyaksikan acara yang menggelar 10 pasang ayam aduan selama 2 hari. Riuh rendah suara mereka terdengar saling bersahutan menyemangati masing-masing jagoannya untuk berlomba.

Lawan sepadan

Pertandingan ayam aduan yang dimulai pukul 10.00 itu berlangsung meriah. Peserta dari Lampung, Jakarta, Jambi, Bengkulu, Makasar, dan Bandung turut berpartisipasi. Mereka ingin menjajal ketangguhan jagoannya berlaga.

Sebelum ayam aduan turun gelanggang masing-masing pemilik mencari lawan tanding sepadan. Caranya, peserta yang telah membawa ayam duduk saling berhadapan. Dengan begitu mereka dapat leluasa mengamati penampilan calon lawan. Agar lebih yakin, peserta diperkenankan memegang dan mencermati sosok ayam lawannya. Ini sangat penting agar sepasang ayam yang dipertandingkan benar-benar seimbang, termasuk tinggi maupun bobotnya.

Jika sudah sepakat mereka segera mencatatkan diri pada panitia. Data yang dicatat berupa nama ayam, warna, umur, dan pemilik. Setelah itu petugas mengatur waktu turun gelanggang dan menetapkan wasit yang bakal memimpin pertandingan. Wasit menyampaikan aturan main yang disepakati bersama agar tercipta permainan bersih.

Sepasang ayam diberi kesempatan berlaga selama 6 ronde, masing-masing 15 menit. Jeda antarronde 5 menit. Kedua petarung dibawa ke tengah arena beralas serbuk kayu yang sudah dipadatkan dan dikelilingi lingkaran berdiameter 5 m terbuat dari bantalan busa yang dibungkus karpet merah. Diawali aba-aba wasit, kedua petarung memulai pertandingan. Wasit berdiri di pojok arena sambil mengamati kedua ayam.

Tampil perdana di hari pertama, Bintang andalan Feri Gunawan asal Bengkulu dan Tommy milik Utit dari Palembang. Sejak ronde I kedua ayam aduan bertarung untuk menekuk lawannya. Hingga turun minum mereka masih terlihat seimbang. Namun, begitu memasuki ronde II, upper cut istilah tinju yang memukul rahang bawah Bintang telak mengenai kepala Tommy. Tubuhnya pun limbung ke kanan. Kesempatan itu dimanfaatkan Bintang untuk menghantamkan kakinya sebanyak 4 kali. Akibatnya, muncul lubang di leher dan darah mengucur deras membasahi tubuh Tommy.

Tepat 9 menit setelah ronde II dimulai, Tommy menyerah. Tidak semua ayam mudah menundukkan lawan.

Beberapa di antaranya malah menghasilkan seri. Itu dialami ATM milik Darman asal Palembang yang mendapat lawan Balet andalan Athung dari Bengkulu. Sejak ronde I hingga selesai keduanya bertarung seimbang. Jagoan Athung lain, Kabayan pun mendapat lawan seimbang dari Rina kebanggaan Hengky asal Jakarta.

Resmi

Sabung ayam yang digelar di Bumi Sriwijaya itu sebenarnya berlangsung setiap Sabtu dan Minggu. Menurut Ruchimat, ketua Paguyuban Penggemar Pecinta dan Pelestari Ayam Hias Laga (P4AL) sebanyak 4 gelanggang yang dibangun di areal 1.000 m2 itu yang dibangun pada Mei 2004 penuh dikunjungi hobiis.

Sebelumnya, arena laga di daerah Kenten, Palembang. Lantaran daya tampung terbatas, maka dipindah ke areal hutan wisata Puntikayu. “Pertandingan ayam laga pun resmi sehingga berjalan dengan tertib. Keamanan peserta terjamin. Tak ada lagi kejar-kejaran dengan aparat keamanan,” ucap ketua panitia yang menjabat Kasatkam Dit Intelkom Poda Sumatera Selatan itu.

Acara bertajuk Lomba dan Bursa Ayam Hias Laga itu merupakan agenda kalender pariwisata di Palembang sejak 2002. Rencananya, acara serupa bakal digelar di medio Agustus 2004. “Acara ini resmi dan menjadi atraksi menarik yang dapat ditonton masyarakat,” kata Erman Rum, staf promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan.

Hadir pula Hasjal Fauzi, kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan dan Leo Hutabarat, wakil kepala Dinas Pertanian provinsi Sumatera Selatan. “Kita akan mendukung untuk mendapatkan bibit unggul melalui riset dan penyediaan sarana,” kata Hasjal Fauzi.