bibit kelengkeng

Peranan Dan Pengaruh Lokasi Dalam Produktifitas Buah lengkeng

Runtuh sudah status lengkeng sebagai tanaman yang hanya berbuah di dataran tinggi berudara sejuk. Di Rayong, Thailand, di Kuching, Malaysia, dan di Singkawang, Pontianak yang hawanya panas menyengat Nephelium longan itu berbuah lebat. Bagaikan pendekar yang semula hanya bertapa di pegunungan, kerabat dekat leci itu kini merajalela di dataran rendah.

Di Demak ada kenalan saya, Prakoso Heryono, yang pekeijaan sehari-harinya membuat bibit buah. Mangga, putsa, belimbing, sawo, jambu air, dan aneka pohon buah lain adalah mainannya sehari-hari. Mereka dirawat dan diperbanyak untuk kemudian dijual. Bisnisnya biasa saja, tidak ada yang spektakuler. Namun, begitu muncul lengkeng dataran rendah ia berujar, “Dari lengkeng saya bisa jadi jutawan.” Keyakinan itu bisa jadi benar lantaran harga lengkeng setinggi 40—60 cm saat itu Rp 150.000—Rp 250.000/batang.

Sayang, niat menjadi jutawan terhambat lantaran memproduksi bibit tak bisa dalam hitungan hari. Walhasil, pesanan yang datang dari segala penjuru Indonesia hanya bisa dipenuhi seadanya.

Sebuah fenomena dengan satu arti, banyak sekali orang mencari bibit sang dragon eye itu.

Di pameran flora dan fauna Lapangan Banteng beberapa waktu lalu, Prakoso Heryono mencatat beberapa peminat yang inden bibit lengkeng itoh. Itoh atau e daw sekarang dianggap varietas terbaik daripada diamond river dan pingpong yang sudah lebih dahulu beredar. Sainarong Rasananda, ahli lengkeng dari Thailand, dalam emailnya memang menyebut, e daw mendominasi perkebunan di sana karena sangat produktif. Namun, saat ditanam di Queensland, Australia, ternyata e daw tereliminasi, kalah bersaing dengan si chompu dan biew kiew, juga dari Thailand.

Tiga varietas andalan negara Gajah Putih itu ribuan tahun lalu datang dari Cina. Kendatipun demikian, jangan coba-coba meng-grafting e daw, si chompu, biew kiew, atau haew dengan, misalnya, chuliang dan fukien lungan dari Cina. Mereka sudah inkompatibel lantaran perbedaan lingkungan.

Chuliang di Cina ibarat e daw di Thailand, mendominasi perkebunan lengkeng di sana. Bedanya, chuliang membutuhkan udara dingin, lebih dingin daripada yang diperlukan leci. Sedangkan di Thailand, e daw dan kawan-kawan malah lebih produktif jika ditanam di tempat yang lebih hangat daripada leci. Chuliang dapat dipersamakan dengan kohala, varietas li-chihnu, nama lain lengkeng, yang berasal dari Hawaii. Keduanya memerlukan udara dingin untuk berbuah.

E daw, si chompu, dan biew kiew memang lebih toleran hawa panas dibanding dengan chuliang dan kohala. Namun, sebenarnya mereka masih satu golongan, yakni termasuk lengkeng subtropis. Ketiga varietas andalan Thailand itu akan lebih banyak memunculkan bunga dan buah jika didorong oleh iklim yang dingin dan sejuk. Itu sebabnya di Samut Songkhram dan Rayong—daerah bertemperatur panas di Thailand—e daw diberi perlakuan khusus agar sama produktifnya dengan yang ditanam di Chiangmai dan Lamphun, Thailand Utara, yang berhawa lebih dingin.

Lantas, adakah lengkeng asli asal daerah tropis? Vietnamlah sumbernya. Diamond river—orang Thailand menyebutnya petch sakom yang bibitnya cuma dihargai Rp50.000/batang setinggi 40—60 cm, datang dari sana. Hawa panas habitatnya. Di Singkawang yang elevasinya hanya 10—50 m dpi, cabang-cabang pohon diamond river terpaksa disangga kayu soma supaya tidak patah karena lebarnya buah.

Itu pula yang terbukti pada xuang com vang. Varietas lengkeng asal Vietnam ini spesifik dataran rendah. Ia diekspor ke Thailand dan berubah nama menjadi pingpong. Dari Thailand pingpong menyebar ke Malaysia dan masuk Indonesia melalui kebun Mulyono Sutedja di Singkawang, Kalimantan Barat. Kemampuan berbuahnya di dataran rendah tanpa perlakuan khusus, seperti juga pada diamond river, sudah terbukti.

Di sini belum ada e daw yang berbuah. Namun, di kebun milik Kiattisak, Rayong, Thailand, yang ketinggiannya hanya 50 m dpi, cabang e daw juga terpaksa ditopang bambu supaya tidak patah lantaran digelayuti buah. Selain pupuk organik dan kimia, e daw di kebun itu disiram potasium chlorat secara teratur. Pernah dicoba pemakaian gibberelic acid, tetapi hasilnya tidak memuaskan.

Pupuk memang andalan agar para lengkeng subtropis tetap berbuah. Hampir tidak ada yang mengerat atau menggelangi batang untuk merangsang pembungaan dan pembuahan. Lewat dunia maya Sainarong Rasananda mengingatkan agar teknik pengeratan tidak dilakukan untuk e daw, si chompu, biew kiew, kohala, chuliang, dan lengkeng subtropis lain. Pada diamond river teknik itu sukses memunculkan buah. Struktur batang diamond river mirip leci, yang di Chiangmai selalu dikerat agar berbuah.

Menarik jika menyimak pendapat Yos Sutiyoso. Rekan saya itu seorang entomolog yang menguasai ilmu pertanian secara holistik. Ia menganjurkan agar lengkeng diberi bahan organik untuk merangsang produktivitas. Bahkan ia menyarankan agar lubang tanamnya dibuat 1 m x 1 m x 1 m. Dengan cara itu akar menyebar ke segala arah, menghasilkan banyak energi untuk pertumbuhan dan pembuahan. Hendrik Virgilius contoh kasusnya di lapangan. Setiap 4 bulan sekali ia menebarkan bokashi. Ditambah penaburan NPK, penyemprotan Novelgro dan APSA, ia memperoleh 1 kuintal buah dari diamond river berumur 3 tahun.

Teknik budidaya, baik yang konvensional maupun modem, hanya akan memberikan hasil maksimal jika habitatnya cocok. Jadi, jika Anda ingin menanam lengkeng, cermati dahulu varietasnya: subtropis atau tropis? Jika subtropis, seperti e daw, biew kiew, atau si chompu, tanamlah di dataran yang agak tinggi, meskipun di dataran rendah mereka bisa juga berbuah. Jika tropis, seperti diamond river, pingpong, atau lengkeng sugiri, dataran rendah lebih cocok.